My Journal of Excuses

Menu & Search

Textual Gesture

12 January 2016

texting-at-the-table22-1024x725

Jaman berubah, teknologi perlahan merubah cara dan kebiasaan kita dalam melakukan berbagai kegiatan sehari-hari. Seperti menulis; Budaya menulis tangan perlahan mulai ditinggalkan. Berganti dengan mengetik pada layar kaca ponsel.

Pada dasarnya komunikasi adalah proses penyampaian pesan dari komunikator ke komunikan, dimana diantara kedua pihak tersebit terjadi 2 proses penting, encoding dan decoding –komunikator melakukan encoding untuk menyisipkan maksud dan tujuannya didalam pesan tersebut, dan komunikan menasfirkan pesan itu dengan melakukan decoding.

Namun, diantara keduanya terdapat suatu hal yang dinamakan noise. Noise ini diibaratkan semacam pengganggu yang bisa mengakibatkan ‘salah tangkap’ atau miskomunikasi.

Hal ini menjadikan setiap pesan tentu sangat mungkin akan ditasfirkan berbeda-beda oleh setiap orang, tergantung tingkat noise nya. Akan lebih nyaman untuk menelepon teman dari dalam kamar dibandingkan jika kita menelepon mereka di tengah-tengah konser musik Metallica.

Ada berbagai bentuk dan cara dalam kita berkomunikasi, ada yg verbal langsung tatap muka, dan telepon ataupun tekstual melalui email, dan chat. Masing-masing punya kelebihan dan kekurangan.

Jika kita berkomunikasi verbal secara langsung dan tatap muka, intonasi dan bahasa tubuh memiliki peran penting dalam proses penyampaian pesan. Hal tersebut bisa mengurangi dampak dari noise yang ada sehingga pesan bisa diterima dengan baik.

Namun bagaimana dengan komunkasi tekstual?

Terkadang jika kita mengamati, terdapar gestur dan intonasi didalam teks yang kita tulis. Tidak seperti komunikasi verbal yang intonasiya dan gesturnya dilakukan secara langsung dan diucapkan, komunikasi tekstual melakukan hal tersebut dengan simbol-simbol.

“Aku sayang kamu”

“Aku sayang kamu…”

“Aku sayang kamu!”

“AKU SAYANG KAMU”

atau

“Aku sayaaaang kamuuuuu~”

Jika kita membaca teks tersebut, suara yang terdengar di dalam kepala kita untuk setiap teks akan berbeda-beda bukan?

Hal ini tentu bisa dimanfaatkan untuk ‘membungkus’ pesan yang disampaikan agar bisa diterima dengan baik sesuai dengan maksud dan tujuan kita.

Lanjut besok 🙂

Primananda Kusuma

@primanandaak

Related article
Prolog: Dari Jakarta dan Seluruh Isinya

Prolog: Dari Jakarta dan Seluruh Isinya

Banyak orang bilang kalau hidup di Jakarta itu kejam, tapi…

14 Unusual Love Songs for Your Valentine’s Day

14 Unusual Love Songs for Your Valentine’s Day

With Valentine’s Day coming so near, I’m feeling kinda mellowed…

You are You

Be who you are and say what you feel. Because…

Discussion about this post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Type your search keyword, and press enter to search