Jakarta, Impian, dan Realita

Banyak orang bertanya mengapa aku menyukai desain interior. Mengapa? karena bagiku dunia desain itu adalah satu dunia yang penuh dengan tantangan, satu dunia yang terus menerus bergulir dan tak akan pernah berhenti berproses. Walaupun sebenarnya ya, dunia desain interior ini kejam sekali lho, tugas-tugas dan revisi abadi akan selalu menghantui jam-jam lemburmu yang mungkin di akhir terasa tak berarti. Ekstrimnya, terkadang aku menganggap dunia desain interior ini layaknya seorang pacar yang selalu menyakiti kita, namun tidak tahu kenapa, kita tetap saja tidak bisa meninggalkannya.

Aku waktu kecil punya mimpi untuk menjadi detektif, karena menurutku seorang detektif itu keren dan bisa menjawab semua misteri yang ada. Walau nampaknya realita saat ini cukup berbeda ya? hahaha.

Kalau ditanya desain apa yang ingin aku buat saat ini untuk Jakarta, mungkin aku akan menjawab desain apartemen. Sebenarnya aku saat ini benci dengan apartemen-apartemen karena mereka merusak alam dan struktur tanah, tapi justru hal inilah yang menyebabkan desain apartemen saat ini lebih dibutuhkan. Alasannya sederhana, populasi manusia selalu bertambah, namun lahan akan selalu tetap jumlahnya.

Sebuah desain interior yang ideal menurutku harus mempertimbangkan beberapa hal. Dia harus unik, terkonsep, dan yang paling utama, desain tersebut harus user oriented.

Tantangan terbesar dari sebuah desain adalah ketika ia dihadapkan dengan realita. Bagiku, desain sebagus apapun akan sia-sia ketika dia tidak bisa diwujudkan dan dimanfaatkan. Desain menurutku bagaikan sebuah impian yang harus siap berhadapan dengan realita yang ada. Misal ada seseorang yang ingin menggambar sebuah meja. Impiannya berkata bahwa dia akan membuat sebuah meja yang bisa terbang. Namun jika melihat realitanya, membuat sebuah meja yang bisa terbang adalah hal yang sulit diwujudkan bukan?

Namun aku percaya satu hal: Kata ‘sulit’ dan ‘tidak mungkin’ masing-masing memiliki makna yang berbeda.

Kunci seseorang untuk maju itu menurutku ada dua. Pertama, dia harus mencari lingkungan yang dipenuhi oleh orang-orang yang positif. Kedua, dia harus terus-menerus haus akan ilmu. Dumbeldore berkata, keingintahuan bukanlah sebuah dosa, karena dengan keingintahuan yang besar, kita bisa memperkecil jarak antara impian dan realita. (Nadia, 2017)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>