Jakarta dan Sepiring Nasi

Kalau mas perhatikan, rata-rata nasi goreng dengan gerobak seperti ini rasanya tidak jauh beda kan? Itu karena memang kita sebelumnya berkumpul di satu tempat yang sama untuk mengambil gerobak dan bahan-bahan baku untuk dibawa keliling nanti. Nah itulah kenapa rasa nasi gorengnya hampir sama.

Kamu bisa panggil aku Ilham mas, Ilham Setiadi. Aku berjualan nasi goreng baru-baru saja kok mas, baru beberapa bulan lalu saat bengkel tempat saya bekerja sebelumnya tutup. Dasar memasak pun saya tidak ada mas, tau masak seperti ini juga awalnya karena diberi tahu oleh bos. Tinggal nyampur-nyampur aja kok hahaha.

Saya berangkat sore mas, sehabis maghrib hingga jam tiga pagi. Keliling di sekitaran salemba, cempaka putih, dan di sekitar tempat mas ini. Teman-teman juga sudah punya wilayah keliling masing-masing, bahkan ada yang keliling sampai di daerah Rawamangun yang cukup jauh dari sini.

Sehari aku paling banyak bisa menjual 40 piring mas, ya itu termasuk nasi dan mie. Apes-apesnya kalau pas hari hujan, itu untuk menjual 15 piring aja sudah syukur banget. Yah bisa nutup kebutuhan sehari-hari lah mas setelah dikurangi setoran.

Suka duka pasti ada mas, dari tidak dibayar hingga diganggu hantu. Tapi ya namanya hidup di Jakarta, tidak boleh banyak mengeluh. (Ilham, 2017)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>