My Journal of Excuses

Menu & Search

Jakarta dan Idealisme Tersembunyi Warung Masakan Padang

16 April 2017

Bang, dengar kataku bang, tidak akan ada orang Padang yang merantau dan langsung membuka warung makan Padang! Membuka warung adalah babak final dari pekerjaan demi pekerjaan yang pernah dijalani.

Aku merantau ke Jakarta sebelum kamu lahir bang, di Juli 1988. Aku ingat benar waktu itu betapa susahnya mencari kapal di Bakaheuni, antrean tiket seperti ular, panjang sekali! Bahkan aku hampir berkelahi dengan calo yang menawarkan tiket seenaknya.

Sesampainya disini aku menumpang sebentar di rumah Ante di Cipulir sembari mencari kerja, kerja apapun InsyaAllah aku siap, asalkan itu halal.

Dua hari kemudian aku bertemu dengan Pak Hadi, kenalan Ante, kebetulan dia punya pabrik besi kecil di daerah Cipulir. Hari itu juga aku dapatkan pekerjaan pertamaku, sebagai tukang besi. Aku menggantikan salah satu karyawannya yang mengundurkan diri karena istrinya hamil tua di Tangerang.

Dan akhirnya setelah beberapa pekerjaan lain yang mempertemukanku dengan istriku sekarang, aku putuskan untuk membuka warung makan Padang di 2010. Hingga saat ini alhamdulillah aku sudah punya tempat tinggal untuk keluargaku

Ku beritahu bang, orang padang yang membuka warung itu punya tradisi yang unik. Kalau Abang ingin porsinya banyak, mintalah di bungkus bang, jangan di makan di warung, porsinya pasti lebih sedikit. Kenapa? karena jaman dulu saat belanda masih di Indonesia, hanya orang belanda saja yang makan di warung, pribumi biasanya minta di bungkus daun pisang. Itulah kenapa porsinya berbeda bang hahaha.

Kalo abang tanya kenapa aku merantau ke Jawa, ini adalah wujud janjiku pada Abak di Sigando. Kalau disuruh memilih, aku lebih suka tinggal di kampung dan bertemu kawan setiap hari.  Cuma aku tak pandai merawat sawah Abak, biarkan Abang sulung ku sajalah.

Awalnya jelas aku takut lah bang, siapa sih bang yang tidak takut dengan Jakarta. Namun saat ini, setelah melihat ketiga anakku besar, aku sempat menyesalkan ketakutanku dulu. (M. Afrizal Koto, 2017)

#31KisahJakarta

 

Primananda Kusuma

@primanandaak

Related article
Epilog: Untuk Jakarta dan Seluruh Isinya

Epilog: Untuk Jakarta dan Seluruh Isinya

Bicara tentang berbicara, banyak orang bisa melakukannya. Berawal dari paru-paru…

Aku: Harapan yang Mengudara

Aku: Harapan yang Mengudara

Malam di Magelang kali ini sedikit berbeda. Cahaya temaram terlihat…

Reason

Reason

Sitting quietly I trying to remember when, when I used…

Discussion about this post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Type your search keyword, and press enter to search