My Journal of Excuses

Menu & Search

Jakarta dan Hati yang Tertinggal

22 April 2017

Aku tidak seperti orang-orang lain yang ada disini. Aku bukan orang-orang yang datang dengan harapan besar untuk merubah hidup mereka dengan menaklukkan ibukota. Jakarta adalah rumah tempat aku kembali.

Aku lahir, besar, dan menjalani masa muda di Jakarta. Walau dulu kuliahku di Bandung, aku selalu menyempatkan diri untuk mengunjungi kota ini.

Saat ini aku bekerja di salah satu perusahaan tambang batu bara di Kalimantan. Satu perusahaan yang dulu pasti pernah menjadi mimpi dari setiap mahasiswa tambang karena gaji dan bayarannya. Tapi percayalah, saat ini aku adalah bukti hidup bahwa uang bukanlah segalanya.

Satu bulan penuh aku hidup di area tambang. Pepohonan bak tirai besi yang mengasingkanku dari kehidupan. Di sana sunyi, senyap, sesekali hanya ada derai daun yang diterpa angin. Mungkin akan sedikit lebih ramai ketika kami sedang membuka titik tambang baru. Dentuman dinamit cukup bisa menolongku dari rasa sepi.

Disana tak ada televisi, sinyal pun susah. Aku harus menggunakan telepon satelit untuk bisa kontak dengan kolega ku di kantor yang berjarak 4 jam perjalanan dari sini.

Besok senin adalah akhir dari kepulanganku di kota ini. Hanya satu minggu aku disini, sebelum akhirnya aku kembali ke Kalimantan dan menjalani rutinitasku disana. Kemarin aku juga sempat ikut pilkada yang menurutku adalah pilkada paling luar biasa sejauh ini.

Oh belum bang belum! aku belum menikah bang, hahaha. Tahun lalu sempat berencana sih, namun ku pikir dengan kondisi dan pekerjaan ku saat ini, kasihan pacarku nanti. Toh juga dia di sini masih mengejar gelar Magister nya di UI. Semoga dia bisa bersabar.

Jakarta diciptakan dari bising dan rindu. Suara klakson dan umpatan di jalan seperti hela nafas yang menjadikan kota ini hidup. Bangunan tinggi penantang langit bercokol di setiap sudut jalan. Kedai-kedai kopi dengan atmosfir berbeda-beda tak terhitung lagi jumlahnya. Dan tentunya perbincangan dengan dia yang masih setia menungguku disini. Itulah kenapa aku rindu tempat ini!

Jakarta, rumah yang ingin selalu kupeluk erat sebelum aku meninggalkannya lagi. (Hasyim, 2017)

#31HariMenulis

 

Primananda Kusuma

@primanandaak

Related article
Epilog: Untuk Jakarta dan Seluruh Isinya

Epilog: Untuk Jakarta dan Seluruh Isinya

Bicara tentang berbicara, banyak orang bisa melakukannya. Berawal dari paru-paru…

Aku: Harapan yang Mengudara

Aku: Harapan yang Mengudara

Malam di Magelang kali ini sedikit berbeda. Cahaya temaram terlihat…

Reason

Reason

Sitting quietly I trying to remember when, when I used…

Discussion about this post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Type your search keyword, and press enter to search