Edisi Khusus: Jakarta, Narkotika, dan Titik Balik (Bagian 1)

Sebelumnya penulis memohon maaf yang sebesar-besarnya. Identitas dan beberapa bagian dari hasil percakapan penulis dengan narasumber terpaksa harus dihilangkan dengan alasan privasi.

Lima belas tahun lalu, daerah Murdai sini seperti pasar malam bang. Kalau abang mau cari barang seperti Inex, Coke, Marijuana semua ada, tinggal pilih pokoknya.

Polisi dan aparat saat itu punya andil dalam mengamankan daerah ini. Pengedar, bandar, warga, dan aparat pun sama-sama tahu dengan persebaran narkotika yang ada disini. Biasanya yang minta jatah itu polisi-polisi yang masih kroco bang. Karena biasanya kalau ada penggrebekan, itu atas perintah komandannya. Jadi sudah tidak asing bang bagi kami untuk ditangkap oleh polisi ‘teman’ sendiri.

Toh hukum mengenai narkotika sendiri saat itu tidak se-tegas saat ini. Ada beberapa temanku yang bolak balik masuk rutan dengan kasus yang sama, namun hanya mendapatkan penambahan waktu penjara saja di kasus yang kedua, tidak sampai hukuman mati seperti saat ini. Mungkin bisa dibilang mereka beruntung, coba mereka bergerak di jaman ini, pasti sudah masuk peti itu! Untunglah mereka akhirnya sempat tobat dan berhenti.

Aku mulai terjun di tahun 1987. Saat itu aku masih muda dan benar-benar tidak peduli dengan risiko yang akan aku terima. Aku rela melakukan apapun demi uang dan minuman. Pokoknya sekedar untuk senang-senang sampai pagi, tidur lelap, bertemu malam , dan kembali bekerja.

Layaknya remaja pada umumnya, awalnya aku hanya ikut-ikutan karena diajak oleh temanku. Dia bilang kalau dia punya pekerjaan sambilan yang cukup mudah dan bisa mendapatkan keuntungan yang besar.

Kalau ditanya berapa angkanya, bisa dibilang cukup besar bang untuk saat itu.  Satu bendel uang pecahan Rp10.000 sering kudapatkan di tiap transaksi, aku ingat betul saat itu masih bergambar R.A Kartini. Total jumlahnya mungkin sekitar 100 hingga 300 ribu, tergantung besar transaksinya. Pokoknya minuman hampir tidak absen kutenggak, bahkan dalam seminggu aku masih sempat bermain wanita di daerah dekat Kampung Rawa sana.

Keadaan mulai berubah di awal 1994. Aku tidak tahu bagaimana jelasnya, tetapi kata teman-temanku daerah ini sudah mulai tidak aman. Harus ditemani dan ekstra hati-hati jika akan melakukan transaksi, dengan siapapun itu, terutama pelanggan baru. Benar saja, di malam tahun baru salah satu temanku tertangkap karena nekat untuk melakukan transaksi sendiri, dan dijebak aparat di daerah Rawasari. Setelah serangkaian proses dilakukan, akhirnya temanku dijebloskan di Nusakambangan. Aku sedikit terkejut mendengar hal itu, tahun-tahun sebelumnya biasanya dengan kasus serupa hanya dijebloskan ke lapas Bandung, tidak sampai Nusakambangan.

Tertangkapnya temanku itu membuatku gusar. Keberanianku tidak sebesar dulu yang main sikat sana sini tanpa banyak pikir. Pendek kata, aku takut tertangkap.

Ketakutanku itu masih berlanjut hingga tahun 1995. Transaksi yang kulakukan tidak sebanyak dulu. Aparat makin agresif dalam membasmi narkotika yang beredar. Hal ini menyebabkan distribusi yang dilakukan pada saat itu cukup terganggu. Dan hal itu tentu membuatku makin takut.

Hingga di suatu malam aku bermimpi, di mimpiku itu aku tertangkap oleh polisi setelah melakukan transaksi. Aku sontak terperanjat ketakutan, aku lihat temanku tertawa di sampingku ketika kuceritakan mimpiku tadi.

“Itu artinya, besok lo lolos!”, tuturnya sambil tertawa. Kebetulan esok siang ada paket yang harus aku jual ke langgananku.

Esoknya, aku langsung bergegas menuju daerah Bukit Duri untuk bertemu salah satu langgananku. Aku datang kesana sendirian tanpa mengajak temanku. Mulanya aku sempat ragu, karena malam kemarin temanku sempat mengingatkan untuk tetap berhati-hati dan mengajaknya untuk menemaniku. Tetapi karena kupikir sudah langganan, ini pasti akan seperti transaksi yang biasanya.

Sesampainya disana, aku mendapati langgananku di tempat biasa, di satu sudut gang kecil. Aku cukup heran karena dia datang duluan, biasanya dia terlambat.

Sebenarnya aku masih ragu dengan transaksi ini. Masih terpikir di benak ku kata-kata temanku semalam. Tapi di sisi lain aku ingin transaksi ini segera selesai, aku pulang, dan bersenang-senang dengan uang yang akan aku dapatkan sebentar lagi.

Bergegas aku mendatanginya dengan membawakan paket yang ia minta.

Setelah paket kuserahkan, tiba-tiba terdengar derap langkah tegap. Ku balik badanku, dan nampaknya mimpiku kemarin akan menjadi nyata…

(Bersambung di bagian kedua)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>