Edisi Khusus: Jakarta, Narkotika, dan Titik Balik (Bagian 2)

Tanpa pikir panjang aku lari sekencang kencangnya. Uang yang baru saja kuterima kulempar hingga berhamburan. Aku berlari masuk ke dalam gang yang cukup sempit. Belum lagi selokan, polisi tidur, dan pot-pot kecil yang ada di samping membuat gang itu terasa makin sempit.

Aku berlari kencang dengan ketakutan, aku tidak sempat lagi menoleh kebelakang untuk melihat jarak antara aku dan polisi-polisi itu. Mereka berteriak menyuruhku berhenti, tapi tidak mungkin aku menurutinya.

“DOR!”, terdengar suara pistol keras sekali. Aku tidak tahu apakah mereka mengarahkannya kepadaku, atau ke udara. Namun sesaat setelah  mendengar suara tembakan itu, aku langsung lemas, aku jatuh tersungkur tak kuat lagi berlari. Ketakutanku memuncak dan mengunci seluruh badanku. Aku tertangkap.

Setelah itu aku digiring ke kantor polisi. keadaan di sana sepertinya tidak usah kuceritakan, biasa lah, abang juga pasti sudah tau kan?

Beberapa hari kemudian aku divonis 2 tahun kurungan atas tuduhan pengedaran narkoba. Beruntung aku dijebloskan di Salemba dan hanya dikenai hukuman kurungan.

Keadaan di rutan bagaimana? abang nanti akan aku ceritakan, namun dengan satu syarat, jangan ditulis dimanapun.

***

Setelah dua tahun berlalu, akhirnya aku bebas. Satu tahun 10 bulan lebih tepatnya, setelah pengurangan dan remisi yang aku terima. Saat keluar dari tahanan, aku kebingungan untuk mencari kerja bang. Pilihanku saat itu hanya dua, keduanya sama-sama susah: mencari pekerjaan lain, atau kembali ke dunia lamaku.

Aku putuskan untuk mencari satu pekerjaan yang halal. Menjadi penjual empek-empek keliling. Untuk mendapat pekerjaan itupun prosesnya cukup lama bang, karena sulit bagi seorang mantan narapidana untuk bisa kembali dipercaya orang.

Di jalan pun saat itu aku masih sering ditertawakan dan dicibir oleh orang-orang, bahkan teman-temanku sendiri. Dibilang cemen lah, penakut lah, apapun itu harus aku terima dengan lapang dada.

Status mantan narapidana itu menjadikan daganganku tidak terlalu laku bang, daganganku paling banyak sehari hanya laku 4 hingga 5 porsi saja. Sudah banyak warga yang tahu tentang keadaanku. Mereka bahkan menjauhkan anak-anak mereka dariku, takut diculik mungkin.

Kesulitan ekonomi ini membuatku berpikir untuk kembali lagi ke duniaku yang lalu. Dimana uang bukanlah masalah besar, dan mudah untuk didapatkan. Aku pun tidak bisa meminta ke kedua orangtua ku, karena tahu besarnya malu yang mereka dapatkan dari kelakuanku.

Aku menceritakan keluh kesahku ini dengan seorang wanita yang telah aku kenal sejak lama. Dia adalah putri dari haji dan hajah yang sangat baik di dekat rumahku.

Kehangatan yang aku dapat ketika berkunjung ke rumahnya membuatku merasa menjadi manusia yang sebenar-benarnya. Mereka tidak pernah menyinggung tentang pekerjaanku dulu, ataupun hal-hal yang berkaitan dengan itu. Itu adalah satu titik balik dimana aku dibimbing untuk berdamai dengan masa laluku, dan menghadapi masa depan.

***

Aku pun sekarang sudah punya pekerjaan yang jauh lebih baik dibanding dulu, menjadi salah satu mitra dari perusahaan ojek daring di Jakarta. Aku bergabung sejak tahun 2014, setelah berbagai pekerjaan lain yang pernah aku lalui sebelumnya. Bagiku ini adalah pekerjaan yang mulia, karena keuntungan dan itung-itungan di dalamnya cukup transparan. Selain itu aku juga punya pekerjaan-pekerjaan lain yang sanggup menckukupi kebutuhan keluargaku sehari-hari.

Wanita yang tadi kuceritakan telah menjadi Istriku bang. Kami dikaruniai 1 putri, saat ini dia sudah duduk di kelas 3 SMK. Aku bahagia sekali karena dia tidak macam-macam dalam bergaul. Ketika aku menawarkan sepeda motor, dia menolaknya karena lebih senang naik angkot atau aku jemput di sekolah. Setelah lulus, katanya dia ingin langsung bekerja saja. Aku menghargai keputusannya saat ini, walau aku sebenarnya tetap ingin dia bisa kuliah dulu.

Jakarta adalah kota dengan ribuan pilihan. Kita bisa menjadi apapun di sini. Jadi pahlawan atau penjahat bisa, kerja halal atau kerja haram juga bisa. Tinggal abang sendiri ingin jadi seperti apa. (Dia, 2017)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>