Dompet Kecil Warna Biru

sepatu kecil

“Ayah-ayah! mau beli apa?”, tanya seorang anak sembari menarik-narik kemeja ayahnya.

“Ayah-ayah! harga cokelat tu berapa sih?”. “Ayah-ay…”

“Apa lagi sih kak? ayah sedang sibuk!”, potong sang ayah sambil memilih minuman botol yang beragam

Percakapan itu mau tak mau jadi perhatianku karena aku berada tepat di belakang mereka. Siang ini memang cukup panas, pantas saja banyak orang membeli minuman dingin di minimarket ini.

Mungkin karena penasaran dengan cokelat berbentuk telur itu, anak itu berlari mendekat ke arah meja kasir.

Beberapa saat setelah melihat anaknya berlari menjauh, sang ayah memanggilnya dengan cukup keras. “Kakak sini! jangan bandel!”

Terkejut, anak itu lalu menangis. Air matanya membasahi pipinya yang tembam. Ia lalu kembali dan memeluk kaki ayahnya.

div

“Jadi semuanya enam ribu pak”

Ketika sang ayah akan meraih dompetnya, alih-alih petugas kasir malah memberinya cokelat berbentuk telur dan dompet kecil berwarna biru.

Lho, apa ini?”, tanya sang ayah sambil mengerenyitkan dahinya.

Petugas tersenyum dan menjawab, “Sudah dibayar pak, katanya ini hadiah ulang tahun untuk bapak”. “Beberapa menit yang lalu anak bapak berlari kesini. Dia tidak tahu berapa uang yang harus dibayarkan, lalu dia memberikan dompetnya begitu saja”

Sang ayah tertunduk diam, memeluk anaknya dan menangis. “Makasih ya kak, maafkan ayah…”

When a father gives to his son, both laugh; when a son gives to his father, both cry.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>